Reformulasi Regulasi Perkawinan Paksa: Studi Komparasi Antara Indonesia, Inggris Raya, dan Pakistan

Authors

  • Satriya Aldi Putrazta Universitas Jember
  • Sonia Wijaya Putra Universitas Jember
  • Dominikus Rato Universitas Jember
  • Triana Ohoiwutun Universitas Jember

Keywords:

Pernikahan Paksa, Perlindungan Korban, Perbandingan Hukum, Reformulasi Hukum

Abstract

Penelitian ini mengkaji kerangka hukum komparatif terkait perkawinan paksa di Indonesia, Inggris, dan Pakistan, dengan tujuan merumuskan model reformulasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) agar lebih efektif dalam melindungi korban. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan perundang-undangan untuk mengkaji aturan hukum yang berlaku, pendekatan konseptual untuk mengidentifikasi perlunya reformasi norma hukum, dan pendekatan komparatif untuk menganalisis persamaan dan perbedaan regulasi di ketiga negara tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia telah mengkriminalisasi perkawinan paksa sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara, namun belum memiliki mekanisme pencegahan dan pemulihan korban yang komprehensif. Inggris, melalui Forced Marriage Protection Orders (FMPOs) dalam Family Law Act 1996 dan Forced Marriage (Civil Protection) Act 2007, menyajikan model perlindungan preventif yang progresif. Sebaliknya, Pakistan menegaskan larangan tersebut melalui Undang-Undang Pembatasan Pernikahan Anak tahun 1929 dan Undang-Undang Pencegahan Praktik Anti-Perempuan tahun 2011, meskipun implementasinya dibatasi oleh budaya patriarki. Reformulasi Undang-Undang TPKS diperlukan agar lebih preventif, responsif, dan berorientasi pada korban sesuai dengan standar hak asasi manusia internasional.

References

Nursri Hayati, “Konsep Manusia Berdasarkan Tinjauan Filsafat (Telaah Aspek Ontologi, Epistemologi Dan Aksiologi Manusia),” FORUM PAEDAGOGIK 12, no. 1 (2021): 109–31, https://doi.org/10.24952/paedagogik.v13i1.3503.

Hisdiyatul Izzah et al., “Faktor dan Dampak Nikah Paksa Terhadap Putusnya Pernikahan Menurut Kompilasi Hukum Islam,” The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law 2, no. 1 (2021): 59–78, https://doi.org/10.51675/jaksya.v2i1.174.

Oheo Kaimuddin Haris et al., Adat Kawin Tangkap (Perkawinan Paksa) sebagai Tindak Pidana Kekerasan Seksual, 5, no. 1 (2023).

Paola Frati et al., “Legal Perspectives on Sexual Violence: A Cross-European Study,” Forensic Sciences 5, no. 3 (2025): 38, https://doi.org/10.3390/forensicsci5030038.

Zara Ahmed, “Evolution of Pakistani Marriages,” Canadian Journal of Family and Youth / Le Journal Canadien de Famille et de La Jeunesse 14, no. 2 (2022): 1–10, https://doi.org/10.29173/cjfy29760.

Ery Kurnia and Albar Aliyyus, Budaya Perkawinan dalam Bentuk Pemaksaan Perkawinan Vs Tindak Pidana dalam Lingkup Perkawinan Menurut Perspektif Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, 2022.

Kyja Noack-Lundberg et al., “Understanding Forced Marriage Protection Orders in the UK,” Journal of Social Welfare and Family Law 43, no. 4 (2021): 371–92, https://doi.org/10.1080/09649069.2021.1996083.

Sania Islam, “Forced Marriage: Law and Practice in Pakistan,” SSRN Electronic Journal, ahead of print, 2021, https://doi.org/10.2139/ssrn.3892076.

Ahmad Nawaz, “Under-Age And Forced Marriages: An Anathema Of Pakistani Society,” Journal of Public Policy Practitioners 1, no. 1 (2023), https://doi.org/10.32350/jppp.11.02.

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, edisi revisi (Jakarta: Prenada Media, 2017)

Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum: Normatif & Empiris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010).

Dewi Bunga et al., “Praktik Pemaksaan Perkawinan Pasca Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual,” Jurnal Aktual Justice 8, no. 1 (2023): 47–62, https://doi.org/10.70358/aktualjustice.v8i1.1029.

Muhammad Arif Sahlepi and Cut Nurita, “The Comparative Law On The Crime Of Sexual Violence Between Indonesia And The United Kingdom,” Jurnal Pembaharuan Hukum 10, no. 3 (2023): 481, https://doi.org/10.26532/jph.v10i3.35287.

Dalia Kadry Abdelaziz, “Criminal Legislation and Women in Sexual Assault Cases: Justice or Victim Blaming?,” Journal of Posthumanism 5, no. 2 (2025), https://doi.org/10.63332/joph.v5i2.466.

Nora Honkala, “‘An Unhappy Interlude’: Trivialisation and Privatisation of Forced Marriage in Asylum-Seeker Women’s Cases in the UK,” Refugee Survey Quarterly 41, no. 3 (2022): 472–97, https://doi.org/10.1093/rsq/hdac018.

Farhat Taj, “A Context-Sensitive Approach to Immigrant Pakistani Women’s Rights in Norway,” NAVEIÑ REET: Nordic Journal of Law and Social Research, no. 4 (December 2015): 85–94, https://doi.org/10.7146/nnjlsr.v0i4.111096.

Maria Muzaffar Janjua and Professor Dr Anila Kamal, Understanding the Role of Patriarchy in Perpetuating Child Marriages in Pakistan: A Qualitative Exploration, 5, no. 4 (2024).

Abzahir Khan and Muhammad Adeel, “Forced Marriage Prevailing in Pakistan: An Introduction and Shari’ah Analysis,” Journal of Islamic and Religious Studies 1, no. 2 (2016): 13–22, https://doi.org/10.36476/JIRS.1:2.12.2016.02.

Nabila Maharani, “Pelaksanaan Kawin Paksa Sebagai Tuntutan Adat Dalam Perspektif Hukum Positif Dan Hak Asasi Manusia,” TARUNALAW : Journal of Law and Syariah 2, no. 01 (2024): 12–21, https://doi.org/10.54298/tarunalaw.v2i01.168.

Satriya Aldi Putrazta, Caesar Dimas Edwinarta, Annas Rasid Musthafa, Nur Alifia Fitriani, dan Dzakirah Najyala Fakhirani El-Difra, “Perlindungan HAM dari Perbudakan Modern bagi ABK Indonesia di Kabupaten Tegal (Studi pada ABK yang tergabung di Komunitas INFISA),” UNES Law Review 6, no. 1 (2023): 1783–1798.

Maria Farida Indrati, Sony Maulana Sikumbang, Fitriani Ahlan Sjarif, dan Yahdi Salampessy, Ilmu Perundang-Undangan, edisi 3 (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2023)

Eko Nurisman, “Risalah Tantangan Penegakan Hukum Tindak Pidana Kekerasan Seksual Pasca Lahirnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022,” Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia 4, no. 2 (2022): 170–96, https://doi.org/10.14710/jphi.v4i2.170-196.

Hannah Baumeister and Alex Carabine, “Drawing on Forced Marriage,” The Law Teacher 58, no. 3 (2024): 350–62, https://doi.org/10.1080/03069400.2024.2360831.

Zeeshan Ahmad and Afzal Ahmad, “Socio-Cultural and Economic Consequences of Forced Marriages A Case Study of District Swabi Tehsil Razzar,” CARC Research in Social Sciences 2, no. 1 (2023): 12–17, https://doi.org/10.58329/criss.v2i1.19.

Gita Kiki Septia and Suhartini Suhartini, “Kepentingan Restitusi dalam Sistem Peradilan Pidana Sebagai Sarana Pemulihan Korban Kekerasan Seksual,” JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan 4, no. 6 (2024): 916–28, https://doi.org/10.36418/syntax-imperatif.v4i6.334.

Ataka Badrudduja and Yeni Widowaty, “Analisis Pemenuhan Hak Atas Restitusi Terhadap Anak Sebagai Korban Tindak Pidana Kekerasan Seksual,” Indonesian Journal of Criminal Law and Criminology (IJCLC) 4, no. 2 (2023): 57–68, https://doi.org/10.18196/ijclc.v4i2.19115.

Kyja Noack-Lundberg et al., “Understanding Forced Marriage Protection Orders in the UK,” Journal of Social Welfare and Family Law 43, no. 4 (2021): 371–92, https://doi.org/10.1080/09649069.2021.1996083.

Downloads

Published

2025-11-28

How to Cite

Satriya Aldi Putrazta, Sonia Wijaya Putra, Dominikus Rato, & Triana Ohoiwutun. (2025). Reformulasi Regulasi Perkawinan Paksa: Studi Komparasi Antara Indonesia, Inggris Raya, dan Pakistan. Nusantara Journal of Multidisciplinary Science, 3(4), 402–416. Retrieved from https://jurnal.intekom.id/index.php/njms/article/view/1692