Cultural Value Analysis at Avalokitesvara Temple in Padangsidimpuan City
Keywords:
Biara Avalokitesvara, Nilai Budaya, PadangsidimpuanAbstract
Studi ini membahas nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Kuil Avalokitesvara di Kota Padangsidimpuan, dan bertujuan untuk menjelaskan nilai-nilai budaya di Kuil Avalokitesvara di Kota Padangsidimpuan. Pembahasan ini berfokus pada analisis makna simbolis dari berbagai elemen di kuil, seperti patung, ornamen, dan akulturasi dengan budaya lokal. Tujuan studi ini adalah untuk mengungkap peran kuil sebagai tempat pelestarian budaya dan spiritual, serta jembatan yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat di Padangsidimpuan. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif, berdasarkan observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Data primer dikumpulkan dari pengelola kuil dan jemaah, sedangkan data sekunder berasal dari literatur, jurnal, dan dokumen terkait. Pendekatan ini memungkinkan studi untuk menafsirkan makna di balik simbol-simbol yang diamati dan mengungkap nilai-nilai yang mendasarinya. Hasil studi menunjukkan bahwa Kuil Avalokitesvara dijiwai dengan nilai-nilai luhur, seperti welas asih universal, perlindungan spiritual, kemakmuran, pencerahan, dan toleransi. Namun, penelitian ini menghadapi beberapa kendala, khususnya dalam menelusuri sejarah kedatangan orang Tionghoa ke Padangsidimpuan. Kurangnya sumber tertulis dan catatan sejarah menyulitkan rekonstruksi latar belakang sejarah secara detail. Meskipun demikian, temuan penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana kuil ini berfungsi sebagai pusat budaya yang hidup dan simbol toleransi serta harmoni dalam masyarakat multietnis
References
Kiswahni, A. (2022). Peran Masyarakat Majemuk dalam Melestarikan Keanekaragaman Budaya di Indonesia. De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 2(6), 235–243.
Arifin, Z., Sikumbang, A. T., & Samosir, H. E. (2023). Manajemen Komunkasi Pemerintah Kota Padang Sidimpuan dalam Mensukseskan Pembangunan Bidang Agama. Jurnal Diversita, 9(1), 1–9.
Harahap, H. B. (2003). Pemerintah Kota Padangsidimpuan Menghadapi Tantangan Zaman.
Rahayu, P. P., & Indiarti, P. T. (2020). Makna Peruntungan Usaha dalam Simbol di Budaya Imlek bagi Masyarakat Etnis Tionghoa Surabaya. Jurnal Psikologi Perseptual, 5(1), 55
Kurniawan Rafiq, Abiyah Shofy, Adriyan Putra Dendi, Sari Okta Wita, & Wijaya Varel Mhd. (2023). Pengaruh Akulturasi Budaya Minangkabau Pada Etnis Tionghoa Di Kota Padang. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Dan Budaya, 2(1), 364–374.
Wagito. (2017). Vihara theravada di kota singkawang. Jurnal Online Mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura, 5(1), 53–61.
Surbakti, D. Y. B., Julina, & Rudiansyah. (2023). Makna Simbol dan Ornamen Pada Bangun Vihara Gunung Timur. 5(2), 51–70.
Fortino, E. T., Darmayanti, T. E., Studi, P., Interior, D., & Maranatha, U. K. (2023). Kajian Narasi Pada Gerbang Satya Budhi Di Bandung Study Of Narration On Satya Budhi Temple ’ S Gate In Uraian tersebut sekaligus menjawab pertanyaan akan kenapa penelitian terhadap gerbang pada bangunan Vihara menjadi penting dilakukan ? dapat dikatakan b. 103–123.
Ghufron Alwi Husaen, et al. (2021). Melacak Jejak Historis Arkeologis Kesultanan Banten Pada Masa Sultan Syarif Hidayatullah di Situs Vihara Avalokitesvara : Sejarah Agama Buddha Dan Sejarah Vihara. In Haura Publishing (Kelompok Penerbit Haura).
Yunia Wulandari, Made Desak, I. W. P. (2023). Sejarah Vihara Samyag Dresti Di Desa Penglatan, Buleleng, Bali: Latar Belakang, Struktur, Dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Di SMA. 11(2), 126–135.
Utari, S. D., & , Arifinsyah, E. E. (2024). Analisis Makna Simbolik Ornamen Kuil Buddha Dalam Konteks Keagamaan Studi Kasus Maha Vihara Maitreya. 7, 145–158.
Budiarta, I. W. (2023). Integrasi Kearifan Lokal Mulat Sarira Dalam Pembelajaran Sejarah. Jurnal IKA, 21(1), 1–7.
Malinowski, B. (2001). Argonauts of the Western Pacific An Account of Native Enterprise and Adventure in the Archipelagoes of Melanesian New Guinea [1922/1994]. In Sustainability (Switzerland) (Vol. 11, Issue 1).
Alaslan, A., Suharti, B., Laxmi, Rustandi, N., Sutrisno, E., & Rahmi, S. (2023). Penelitian Metode Kualitatif.
Purana, N. (2025). Significance of Three doors. Wisdom Library.
Khudori, N. (2019). Arsitektur Atap Tradisional Tionghoa dan Filosofinya. Tionghoa.Info.
Grace Mulyono, & Diana Thamrin. (2008). Makna Ragam Hias Binatang Pada Klenteng Kwan Sing Bio Di Tuban. Dimensi Interior, 6(1), 1–8.
Geertz, C. (2001). Kebudayaan dan Agama. In Penerbit Kanisius (pp. 1–123).
Felicia, S. (2021). Analisis Makna Simbolis Dan Warna Dari Ragam Hias Binatang Pada Klenteng Xian Ma Makassar. International Seminar on Language, Education, and Culture, 363–368.
Williams, P. (2009). MahÄyÄna Buddhism The doctrinal foundations Second edition (Vol. 17).
Jim. (2022). Skinny Buddha? Fat Buddha? The Dailly Buddha
Jasir, I., & Adya, F. (2024). Tinjauan Penggunaan Unsur Tradisional Cina Pada Restoran Cina, Kapal Pesiar Genting Dream, Resort World Cruises. I N S I D E, 02(02), 311–328.
Regina Permatadewi, & Tantiany Gunawan. (2023). Jejak Historis Klenteng Boen Tek Bio Sebagai Cagar Budaya Warisan Etnis Tionghoa Di Tangerang. Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Sosial, 1(1), 137–163.
Sasanasena, U., & Hansen, S. (2008). Ikhtisar Ajaran Buddha
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Rosintan Harahap, Julina, Jessy

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.













